Imam Al-Ghazali ketika ditanya tentang Seorang Pembimbing Rohani, Guru Mursyid yang tidak lain adalah seorang Wali Allah,
Beliau berkata,
“Menemukan Guru Mursyid itu Lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita”.
Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya menemukan sebatang jarum ditengah padang pasir di gelap gulita, dalam kondisi terang pun akan sulit menemukannya.
Ungkapan Al-Ghazali yang digelar sebagai “Hujjatul Islam” tidaklah berlebihan,
coba kita simak beberapa dalil berikut tentang Wali Allah :
Dalam hadits Qudsi,
“Allah berfirman yang artinya:
“Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab:
“Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”
Kita tidak mengetahui dengan pasti siapa Wali Allah atau siapa orang yang mempunyai derajat tinggi menjadi seorang yang dikasih Allah kecuali Allah berkenan member petunjuk-Nya. Untuk memudahkan umat, Rasulullah atas petunjuk langsung dari memberikan beberapa petunjuk ciri-ciri seorang Wali Allah :
Kualitas seorang Wali Allah bukan sembarangan,
mereka izin Allah karena kedekatan kepada Allah apabila kita memandang Wajah Wali Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah, pandangan kita kepada mereka akan menyambungkan rohani (Rabithah) kita dengan Allah.
Inilah dasar dalil yang digunakan oleh pengamal tarekat untuk selalu berwasilah kepada Guru Mursyid sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.
.
Imam Al-Bazzaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, seseorang bertanya:
ya Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, siapa para wali Allah itu?
Beliau menjawab, “Orang-orang yang jika mereka dilihat, mengingatkan kepada Allah,”
(Tafsir Ibnu Katsir III/83).
Dari Said ra, ia berkata:
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya:
“Siapa wali-wali Allah?”
Maka beliau bersabda:
“Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”
(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6)
Secara Dzahir, dalam pandangan awam, seorang Wali Allah bisa dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya meskipun orang yang memiliki sifat tersebut belum tentu langsung menjadi seorang Wali Allah :
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu:
pandai mengendalikan perasaannya di saat marah,
wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’)“
begitu sulitnya untuk mengenal seorang Walullah,
akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa menemukannya bila kita bersungguh sungguh untuk mencarinya,
tentu dengan usaha yg sungguh sungguh serta tak lepas dari berdo'a kepadaNya agar kita diberi petunjuk untuk menemukannya.
sungguh benar Firman Allah berikut ini:
"Manyahdillahu wahuwal muhtadi wa man yudhlil faulaika humul khasiruun" - Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
dialah orang yang mendapat petunjuk,
dan siapapun yang IA biarkan sesat,
merekalah orang-orang yang menderita kerugian.
(QS Al A'raf, ayat 178)
oleh karena itu,
bagi para sahabat yg sudah menemukan dan dipertemukan dengan Waliullah tersebut,
jagalah dengan sedaya upaya bahkan bila perlu nyawa taruhannya untuk tidak kembali lepas dari pegangan kita,
sehingga kita tidak termasuk orang orang yg merugi...
"Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" - "Islam adalah ilmiah dan amaliah." (HR. Bukhari). segala sesuatu/ilmu tentang Islam harus/wajib bisa diterima oleh akal/ilmiah, setelah bisa diterima oleh akal maka perbuatlah (amaliah). dan Ilmu TASAWUF yang BENAR harus diatas Ilmu SYARI'AT yang BENAR juga tentunya...! Bagi sahabat yang ingin berbagi, silahkan kontak kami di : 0897 3174 341
Selasa, 08 Juli 2014
Selasa, 24 Juni 2014
Tubuh (jasmani) Manusia Tercipta sebagai Jalan Masuknya Dosa dan Ruhani Manusia tercipta sebagai jalan Pembersihnya
Bismillah...
mari kita renungkan bersama kenapa jasmani disebutkan sebagai jalan masuknya dosa,
- mata jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita pandang,
- telinga jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita dengar,
- kaki jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita kita jalani/lewati,
- tangan jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita pegang/kerjakan,
- kulit jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita sentuh/rasakan,
- hidung jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita cium,
dan masih banyak lagi sisi jasmani yg bisa menjadi jalan masuknya dosa tersebut...
dan semua dosa tersebut bersemayam dalam hati/ruhani kita dari jalannya jasmani tersebut...
sehingga sudah tidak terhitung / tak terhingga lagi dosa yg telah kita lakukan dari semenjak terbukanya mata sampai kita kembali memejamkan mata,
apakah cukup hanya dengan shalat yg 5 waktu dalam 1 hari,
puasa yg 1 bulan dlm 1 tahun,
zakat yg kita lakukan semampunya,
berangkat haji 1 x seumur hidup,
apakah cukup semua amal yg kita lakukan untuk menghapus dosa yg tak terhingga tersebut dalam ruhani dgn amal yg sangat terbatas dari jasmani kita...?
secara logika tidak mungkin cukup jawabannya...!
manalah bisa menutup amal jasmani yg sangat terbatas (fana) menutup dosa yg tak terhingga tersebut...???
dan kenapa sang Ruhani sebagai pembersih dosa tersebut :
karena hanya Ruhanilah yg bisa beserta/hubungan/dzikir kepada Allah yang Maha Suci secara berkekalan,
sehingga terhimbaslah Kesucian Allah Yang Maha Suci tersebut kedalam diri kita melalui sang Ruhani kita tersebut,
sehingga terkikis habis semua dosa yg tak terhingga tersebut oleh Kemaha Sucian Allah Yang Tak Terhingga pula tersebut... :)
bila kita berhitung secara logika/matematika,
bilangan tak terhingga dikurangi bilangan tak terhingga tntu saja hasilnya Nol...!
itulah Ilmiyahnya Islam,
sehingga benarlah Sabda Rassulullah ini :
"Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" -
"Islam adalah ilmiah dan amaliah."
(HR. Bukhari)
oleh karena itu,
carilah cara agar Ruhani kita bisa dzikir/hubungan/beserta/ingat kepada Allah secara berkekalan,sehingga kita bs mengikis semua karat dosa kita yg tak terhingga tersebut.
agar kita selalu dalam syafa'atNya dari dunia ini sampai akhirat kelak.
bagi yg sudah mendapatkan Ilmu tersebut,
pertahankan dengan segenap kemampuan,
bahkan bila perlu nyawa pun sebagai taruhannya dalam mempertahankan Ilmu tersebut...!
bagi yg belum mendapatkan Ilmu tersebut,
berusahalah dengan sungguh sungguh dan segala daya dan upaya untuk mendapatkannya,
agar kita selamat dari dunia ini sampai akhirat kelak tentunya...!
Sekedar Berbagi.
Rabu, 18 Juni 2014
Apa Bedanya orang yg SHOLAT,dengan orang yg INGAT ALLAH....??
Bismillah...
sekedar mengulang jawaban dari salah satu pertanyaan sahabat,
semoga bermanfa'at untuk kita semua dan ada hikmah dibalik jawaban tersebut.
============================== ==========================
Pertanyaan:
* Apa bedanya orang yg SHOLAT,dengan orang yg INGAT ALLAH....??*
jawaban :
agak menarik walau sebenarnya bkn untuk dibahas persoalan diatas tp untuk diperbuat...
perbedaan shalat dgn Ingat Allah menurut pemahaman yg sudah saya terima,
tergantung dr sudut pandangnya.
dan sebenarnya jawabannya adalah sama,
karena ada keterangan yg berbunyi:
Allah berfirman
“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk MENGINGAT-KU’.
(QS. At Thoha 20: 14)
tapi bila kita kaji lbh dalam,
ada sedikit perbedaan yg teramat mendasar dihasil akhirnya.
bila sudah hubungannya dgn ingat,
tentu bkn perbuatan Jahir saja yg dilakukan dlm shalat tersebut,
akan tetapi dgn disertai dgn perbuatan batin/ruhani.
sehingga terciptalah yg dinamakan KHUSYU dalam Shalatnya (khusyu jahir dan batin).
Khusyu secara Jahir:
sang jahir/badan melaksanakan semua rukun shalatnya dgn tertib dalam shalatnya,
Khusyu secara batin/ruhani:
tiada yg diingat selain Allah (selalu beserta Allah),
nah unsur yg kedua itulah yg menentukan diterima atau tidaknya shalat kita itu oleh Allah SWT kelak dikala dihisab,
dan itu sudah diperingatkan Allah SWT dlm salah satu FirmanNya :
“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya..”
[QS.Al-Ma’un(107): 3-4]
lalai dalam shalatnya mengingat Allah disini artinya,
sang hati/ruhani mengingat yg lain selain Allah,
contoh:
terkadang bahkan kebanyakan orang,
badannya/jahirnya benar dan tertib melaksanakan semua rukun salatnya,
akan tetapi dalam shalatnya hati dan fikiran dia teringat kerjaan, tugas, anak, istri dll selain Allah,
itulah yg disebut "Lalai dalam shalatnya"
oleh karena itu alangkah pentingnya Ilmu tentang hal tersebut,
dan Ilmu (tata cara) tersebut tidak diajarkan dalam Ilmu Syari'at (FIKIH),
akan tetapi hanya dalam Ilmu Keruhanian Islam (Tasawuf Islam) diajarkan metodologi (tata cara) tentang mencapai keKhusyuan Ruhani kita dalam shalat tersebut.
oleh karena itu,
agar tidak sia sia Shalat kita,
maksudnya sia sia disini,
agar amal kita nmengandung unsur ibadah dan tidak nol hasilnya dihadapan Allah SWT,
tentu saja kita harus mendapatkan Ilmu tersebut,
agar kita mendapatkan keselamatan dan Syafa'atNya dikala dihisab Kelak...
sekedar mengulang jawaban dari salah satu pertanyaan sahabat,
semoga bermanfa'at untuk kita semua dan ada hikmah dibalik jawaban tersebut.
==============================
Pertanyaan:
* Apa bedanya orang yg SHOLAT,dengan orang yg INGAT ALLAH....??*
jawaban :
agak menarik walau sebenarnya bkn untuk dibahas persoalan diatas tp untuk diperbuat...
perbedaan shalat dgn Ingat Allah menurut pemahaman yg sudah saya terima,
tergantung dr sudut pandangnya.
dan sebenarnya jawabannya adalah sama,
karena ada keterangan yg berbunyi:
Allah berfirman
“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk MENGINGAT-KU’.
(QS. At Thoha 20: 14)
tapi bila kita kaji lbh dalam,
ada sedikit perbedaan yg teramat mendasar dihasil akhirnya.
bila sudah hubungannya dgn ingat,
tentu bkn perbuatan Jahir saja yg dilakukan dlm shalat tersebut,
akan tetapi dgn disertai dgn perbuatan batin/ruhani.
sehingga terciptalah yg dinamakan KHUSYU dalam Shalatnya (khusyu jahir dan batin).
Khusyu secara Jahir:
sang jahir/badan melaksanakan semua rukun shalatnya dgn tertib dalam shalatnya,
Khusyu secara batin/ruhani:
tiada yg diingat selain Allah (selalu beserta Allah),
nah unsur yg kedua itulah yg menentukan diterima atau tidaknya shalat kita itu oleh Allah SWT kelak dikala dihisab,
dan itu sudah diperingatkan Allah SWT dlm salah satu FirmanNya :
“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya..”
[QS.Al-Ma’un(107): 3-4]
lalai dalam shalatnya mengingat Allah disini artinya,
sang hati/ruhani mengingat yg lain selain Allah,
contoh:
terkadang bahkan kebanyakan orang,
badannya/jahirnya benar dan tertib melaksanakan semua rukun salatnya,
akan tetapi dalam shalatnya hati dan fikiran dia teringat kerjaan, tugas, anak, istri dll selain Allah,
itulah yg disebut "Lalai dalam shalatnya"
oleh karena itu alangkah pentingnya Ilmu tentang hal tersebut,
dan Ilmu (tata cara) tersebut tidak diajarkan dalam Ilmu Syari'at (FIKIH),
akan tetapi hanya dalam Ilmu Keruhanian Islam (Tasawuf Islam) diajarkan metodologi (tata cara) tentang mencapai keKhusyuan Ruhani kita dalam shalat tersebut.
oleh karena itu,
agar tidak sia sia Shalat kita,
maksudnya sia sia disini,
agar amal kita nmengandung unsur ibadah dan tidak nol hasilnya dihadapan Allah SWT,
tentu saja kita harus mendapatkan Ilmu tersebut,
agar kita mendapatkan keselamatan dan Syafa'atNya dikala dihisab Kelak...
Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan” (HR Al-Bukhari)
Bismillah...
terbesit dalam hati disaat membaca hadits ini,
walau bukan Syurga tujuan Utama kita beribadah kepada Allah SWT,
tapi hanya Ridha dan Rahmat serta syafa'atNya yg harus kita harapkan.
akan tetapi karena manusia masih banyak yg tergiur dgn hal tersebut dalam melakukan ibadah,
maka saya akan mencoba mengingatkan dan meluruskan Hal tersbut disini...
“Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan!”
maka shahabat bertanya,
siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?
Nabi menjawab,
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”
(HR Al-Bukhari)
sudah ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas,
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”
artinya kita harus mengikut apa yg diperintahkan Allah melalui RasulNya,
serta memperbuat apa yg dicontohkan Rasulullah,
nah itu hanya bs diperbuat disaat jamannya Rasulullah oleh Umat Beliau dijaman itu yg hidup bersama sama dgn Beliau,sehingga bisa bersentuhan, melihat dan mendengar langsung apa apa yg diucapkan dan diperbuat Rasulullah dijaman itu.
dan disaat sekarang ini,
kita tidaklah hidup dijaman Beliau sehingga kita tdk bs langsung melihat dan mendengar apa yg diucap dan diperbuat Rasulullah SAW,
akan tetapi bkn berarti kita tidak bisa mendengar dan mencontoh Rasulullah dijaman sekarang ini,
karena maasih ada Penerus dan Pewaris Rasulullah SAW hingga akhir jaman kelak,
yaitu Al Ulama Warisyatul Anbya,
dan itu ditegaskan Rasulullah dalam beberapa Sabdanya:
Al-Ulama'u Warishatul Ambiya.
"Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi"
(HR. Muslim)
Kanat banu-isroila tasu suhumul 'anbiyau, kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun. Wainnahu laa Nabiyya ba'di wasa takuunu khulafa'u fataktsuru
"Dulu Bani Israil diurusi dan dipelihara oleh Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada Nabi Sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlah banyak".
(HR. Bukhari - Muslim)
merekalah dijaman sekarang ini yg harus kita cari,
merekalah dijaman sekarang ini sebagai pembimbing dan penuntun kita dalam beragama,
merekalah para Khalifah Rasulullah disetiap jaman smp akhir jaman sebagai penerus Ilmu Rasulullah sampai akhir jaman.
bukan Ulama sekedar Ulama yg kebanyakan mengakui dan diakui seama ini,
bukan sekedar jubahnya yg panjang,
bukan sekedar sorbannya yg melingkar,
bukan sekedar hafalnya dalil al qur'an,
bukan sekedar fasihnya berbahsa arab,
untuk patokan dia disebut sebagai Ulama warisyatul Anbya,
akan tetapi,
sudah lengkap Ilmunya bak itu ilmu syri'at (fikih) maupun Ilmu hakikatnya (ilmu keruhanian islam),
dan yg terpenting,
jelas asal muasal Ilmunya tersebut darimana,
jelas silsilah Keilmuannya tersebut dari Guru Ke Guru hingga Rasulullah SAW,
dan seorang Uama Warisyatul Anbaya berani ikut mempertanggung jawabkan semua Ilmu yg mereka ajarkan pada murid/jamaahnya sampai kelak dihadapan Allah SWT sebagai #Saksi atas Ilmu yg mereka ajarkan selama didunia ini...!
dan hal tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam FirmanNya:
(tentu saja bagi murid yg patuh dan taat atas segala apa yg diajarkan sang Ulama tersebut )
semoga menjadi bahan renungan kita semua...
wassallamu'alaikum....
terbesit dalam hati disaat membaca hadits ini,
walau bukan Syurga tujuan Utama kita beribadah kepada Allah SWT,
tapi hanya Ridha dan Rahmat serta syafa'atNya yg harus kita harapkan.
akan tetapi karena manusia masih banyak yg tergiur dgn hal tersebut dalam melakukan ibadah,
maka saya akan mencoba mengingatkan dan meluruskan Hal tersbut disini...
“Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan!”
maka shahabat bertanya,
siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?
Nabi menjawab,
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”
(HR Al-Bukhari)
sudah ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas,
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”
artinya kita harus mengikut apa yg diperintahkan Allah melalui RasulNya,
serta memperbuat apa yg dicontohkan Rasulullah,
nah itu hanya bs diperbuat disaat jamannya Rasulullah oleh Umat Beliau dijaman itu yg hidup bersama sama dgn Beliau,sehingga bisa bersentuhan, melihat dan mendengar langsung apa apa yg diucapkan dan diperbuat Rasulullah dijaman itu.
dan disaat sekarang ini,
kita tidaklah hidup dijaman Beliau sehingga kita tdk bs langsung melihat dan mendengar apa yg diucap dan diperbuat Rasulullah SAW,
akan tetapi bkn berarti kita tidak bisa mendengar dan mencontoh Rasulullah dijaman sekarang ini,
karena maasih ada Penerus dan Pewaris Rasulullah SAW hingga akhir jaman kelak,
yaitu Al Ulama Warisyatul Anbya,
dan itu ditegaskan Rasulullah dalam beberapa Sabdanya:
Al-Ulama'u Warishatul Ambiya.
"Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi"
(HR. Muslim)
Kanat banu-isroila tasu suhumul 'anbiyau, kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun. Wainnahu laa Nabiyya ba'di wasa takuunu khulafa'u fataktsuru
"Dulu Bani Israil diurusi dan dipelihara oleh Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada Nabi Sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlah banyak".
(HR. Bukhari - Muslim)
merekalah dijaman sekarang ini yg harus kita cari,
merekalah dijaman sekarang ini sebagai pembimbing dan penuntun kita dalam beragama,
merekalah para Khalifah Rasulullah disetiap jaman smp akhir jaman sebagai penerus Ilmu Rasulullah sampai akhir jaman.
bukan Ulama sekedar Ulama yg kebanyakan mengakui dan diakui seama ini,
bukan sekedar jubahnya yg panjang,
bukan sekedar sorbannya yg melingkar,
bukan sekedar hafalnya dalil al qur'an,
bukan sekedar fasihnya berbahsa arab,
untuk patokan dia disebut sebagai Ulama warisyatul Anbya,
akan tetapi,
sudah lengkap Ilmunya bak itu ilmu syri'at (fikih) maupun Ilmu hakikatnya (ilmu keruhanian islam),
dan yg terpenting,
jelas asal muasal Ilmunya tersebut darimana,
jelas silsilah Keilmuannya tersebut dari Guru Ke Guru hingga Rasulullah SAW,
dan seorang Uama Warisyatul Anbaya berani ikut mempertanggung jawabkan semua Ilmu yg mereka ajarkan pada murid/jamaahnya sampai kelak dihadapan Allah SWT sebagai #Saksi atas Ilmu yg mereka ajarkan selama didunia ini...!
dan hal tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam FirmanNya:
Wa
yauma nab'atsu fii kul-li um-matin syahiidan 'alaihim min anfusihim wa ji'naa
bika syahiidan 'alaa haa-ulaa.
Dan ingatlah suatu hari, ketika Kami (Alloh)
bangkitkan tiap-tiap umat seorang saksi
atas mereka dan untuk mereka sendiri, lalu Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka (sebagai
umatnya).
(QS. An-Nahl : 89).
Wal-ladziina
'amanuu billahi warosulihi ulaika humush-shiddiquun wash-syuhadaa'u
'indarob-bihim.
Dan
orang-orang yang benar beriman kepada Alloh dan Rosul-NYA, mereka itu
orang-orang Siddiqin, dan orang-orang
yang menjadi saksi di sisi
Tuhannya
(QS. Al-Hadid : 19).
(tentu saja bagi murid yg patuh dan taat atas segala apa yg diajarkan sang Ulama tersebut )
semoga menjadi bahan renungan kita semua...
wassallamu'alaikum....
Rabu, 14 Mei 2014
GURU MURSYID PADA KERUHANIAN ISLAM ADALAH Al-ULAMA WARISYATUL ANBYA
Assalamu’alaikumWr. Wb.
Terlebihdahulu puji syukur yang tidak terhingga kita panjatkan kehadirat Allah SWT.
Sebagaimana pujian-nyaorang-orang yang kuat yaqin dan kesyukuran-nya orang-orang yang putuspengenalan.
Selanjutnya shalawat seiring salam yang khalis mukhlisin keharibaanArwahul Muqaddasah junjungan alam Baginda Nabi Agung, Nabi Muhammad SAW. KepalaNegara yang pengayom dan kasih kepada rakyatnya,
Ahli Tata Negara yang tiadaduanya,
Panglima perang yang gagah perkasa,
Filosof dunia yang tiada tolokbandingnya,
Kepala keluarga yang bijaksana,
Imam yang sempurna,
Guru dari sekalian Guru Mursyid,
Matahari penunjukjalan,
Pemberi syafa'at dan Rahmatan lil'alamin, Rahmat bagi seluruh Alam.
Kemudian hormat dan khidmat sertasalam ta'zim yang berkepanjangan kita sampaikan kepada Khalifah Rasulullahsebagai Al-Ulama Warshatul Anbya di masing-masing jamannya.
Merekaitu telah mengangkat kita dari lembah kehinaan, kebodohan dan kebutaan
ke atasdataran pengenalan yang tinggi ke peringkat kemuliaan yang tidak terhina lagi untuk selamanya yaitu bahagia raya yang tidakpernah kunjung padam
karena telahmengetahui yang halal dan yang haram, mengerti yang haq dan yang bathil,mengenal yang syirik dan yang mukhlis, mengenal mana langkah Malaikat dan manalangkah Syetan.
Wahai Guru Mursyid kami dengan sebabmusababmu menjadilah kami hamba-hamba yang disinarkan Allah dengan Iman,
mengenal akan amanat Allah dan mengenal akan Warisan Rasulullah sebagaiKhalifah Allah dan Khalifah Rasul yaitu Ulama Warshatul Anbya.
Berkah uluran tanganmu kami terangkatdari lembah kesesatan kepada pengenalan,
dengan bimbinganmu yang penuhkesabaran kami terhindar dari keragu-raguan,
dengan pengajaranmu yang cukupdalil kami mendapat keyakinan,
dengan tuntunanmu yang tidak mengenal bosan kamidapat mengenal tujuan,
dengan petunjukmu yang penuh hikmah merubah kami darikejahilan kepada kearifan,
dan dengan amalan dzikirullah yang engkau tanamkanmenjadikan kami hamba-hamba Allah yang sempurna Islam, sempurna Iman, sempurnaTauhid dan sempurna Ma'rifatullah.
Kehidupan kita dengan kehidupan NabiSAW terpaut lebih kurang 1500 tahun setelah Junjungan wafat,
padahal beliau Nabi Muhammad SAW sebagai tangan di dunia bagi ummatnya,
dan ini ditegaskan AllahSWT. dalam Surat Al Anbya (107) :
Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil 'alamiin –
"dantidaklah KU utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam".
Maksudnya adalah agar kita senantiasa mendapat rahmat Allah maka semuaaktivitas kita wajib menyertakan unsur Nabi SAW (Ruhani = Arwahul MuqaddasahNabi Muhammad SAW)
karena yang dikatakan rahmatan lil ‘alamin adalah Nurun ‘ala Nurin = Nur ilahi berdampingan dengan NurMuhammad yang terbit dari Fi’il Sifat Dzat Allah Ta’ala dan telah ditanamkan oleh Allah didalam dada = qalbu = ruhani Nabi Muhammad SAW (sekarang di dalam arwahul muqaddasahnya)
yang selanjutnyadiwariskan kepada Para Masyaekh yang Mursyidana sebagai Al Ulama Warshatul Anbya sebagai Khalifah Rasul danKhalifah Allah karena silsilahrohani para Khalifah Rasul tersebut terjalin secara nyata dan realita sampai ke Arwahul Muqaddasah NabiMuhammad SAW
sehingga Allah SWT tidak menurunkan Nabi lagi sesuai dengan SabdaNabi SAW
riwayat Bukhari – Muslim:
Kanat banu-isroila tasu suhumul'anbiyau, kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun Wainnahu laa Nabiyya ba'diwasa takuunu khulafa'u fataktsuru =
"Dulu Bani Israil diurus dan dipeliharaoleh Nabi, setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya.Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlahbanyak."
Para Khalifah Rasulullah yangberjumlah banyak inilah yang juga disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai AlUlama Warshatul Anbya sebagai perpanjangan tangan Nabidi dunia untuk umatnya,
Mereka dicipta dan tercipta sebagai pewaris peneruspekerjaan Nabi SAW,
Mereka diberi hak oleh Allah memberikan Syafa’at kepada jama’ahnya sebagaimana Nabi Muhammad SAWmemberikan Syafa’at kepada Umatnya (Yasfa’u yaumal qiyaamatil ambya’u tsummal ulamaa’u tsummasy-syuhadaa’u : HR. Ibnu Majah).
Mereka adalah umatnya Nabi SAW yang duduknya sederetan dengan para Nabi
(QS.Surat An-Nisa’ 69).
Di dalam dada(ruhani) mereka bermuatan Nurun ‘ala Nurin atas penerusan pancaran Nurun‘ala Nurin dariruhani Nabi Muhammad SAW. (sekarang dalam Arwahul Muqaddasahnya).
Nurun ‘alaNurin adalah saluran haq kepada Allah SWT, di dalam Al-Qur’an dipopulerkan dengan nama ilaihil wasilata (QS. Al Maidah 35)
yang kapasitasnya tidak terhingga (simbulmatematikanya adalah ~)
dan Nur itulah yang menuntun rohani kitauntuk beriman dan bertaqwa kepada Allah dan Rasulnya.
Sebagaimana kita ketahui bersama didalam pelaksanaan ibadah shalat yang pada dasarnya shalat itu bermuatan do’a dan dzikirullah atau ingat akanAllah, semua rukun syaratnya benar, ruku’ sujudnya betul dan bacaan didalamshalat bagus namun yang hadirdihati didalam shalatnya ternyata tidak kepada Allah,
tidak hudurul qolbu ma’allah justru yang hadir di hati adalahaktivitas dunia yang telah dilaluinya dengan silih berganti
sehingga Rasulullah SAW memberikan keterangan
"betapa banyakumatku shalat yang didapat hanyalah ruku’ dan sujud serta betapa banyak umatkuberpuasa yang didapat hanyalah lapar dan dahaga",
artinya tidak bermuatan nilaiibadah dan yang didapat hanyalah catatan amal.
Rasulullah SAW bersabda :
Innad du'aa amauquufun bainas samaai walardhi laa yas'adu minhu syai-in hattaa tushalli 'alaa nabiyyika –
"Sesungguhnya Do’a itu terhenti di antara langit danbumi sampai engkau bershalawat atas NabiNya",
(HR. Thabrani, Tarmizi).
Maksudnya do’anya tidak sampai kehadirat Allahsebelum menemukan Wasilah Allah yang telah ditanam di dalam ruhani Nabi-NYA.
Jika dianalogikan dengan bahasaelektronika,
maka Untukmendapatkan frequensi Allah SWT terlebih dahulu menggabungkan frequensi kita kedalam frequensi Nabi SAW karena frequensi Allah telah ada dalam frequensiNabi-NYA.
Tata cara untuk menghubungkan hati ruhani kita ke ruhaniNabi Muhammad SAW kemudian ke hadirat Allah SWT dalam Kitab Al Qur’an populer dengan nama At –Thariq (QS. Al-Jin 10).
Semua ibadahnya umat Islam kepadaAllah SWT wajib menyertakan unsur Nabi-Nya (sekarang Arwahul muqaddasah NabiSAW).
Oleh karena itu bagi Umat Islam yang terpanggil hatinya untukmenyempurnakan ibadahnya melalui kerohanian Islam yaitu memasuki
Thariqat Islam ThariqatNaqsyabandiyah,
wajib mencari dan mendapatkan seorang Guru Mursyid yang Absahdan Mu’tabaroh yang ahli silsilah yangsegaris di Tali Allah Haqiqi
(Silsilah Ruhaninya sambungmenyambung secara nyata dan fakta hingga sampai ke Arwahul MuqaddasahNabi SAW)
yang dibuktikan dengan Ijazah Silsilah dari GuruMursyidnya dan segaris di Tali Allah Syari’i
(berpedoman pada Al Qur’an dan Al Hadits disamping Ijma’ dan Qiyas).
Sesungguhnya Allahsenantiasa menjaga Thariq-NYA yang mustaqim melalui para Khalifah Allah danpara Khalifah Rasul yaitu Al Ulama Warshatul Anbya.
Oleh karena itu para MursyidanaAhli Silsilah selalu mengingatkan umat Islam dalam ibadah agar tauhidnya tetap lurus kepada Allah tentu harus melalui jalan–thariq–metoda–ilaihil wasilata yang lurus pula.
Kitaberibadah tujuannya hanyalah Allah Ta’ala bukan pahala bukan agama dan bukansorga sekalipun.
Dewasa ini telah kita saksikan betapaprihatinya melihat moral = ahlak = perilaku umat sudah banyak yang menyimpangdari tuntunan Agama,
karena mereka pada umumnya tidak mau ataupun tidak mampumengamalkan ajaran Agama Islam secara utuh (kaffah) = jasmani dan ruhani ataubelum menemukan penuntun (Guide) Ulama Warshatul Anbya dalam beribadah kepada Allah SWT.
Merubah ahlak dan perilaku seseorangatau suatu kaum harus dimulai dari dalam diri yaitu menata hati ruhaninya terlebih dahulu
dengan cara kontak dzikirakan Allah melalui tata cara kerohanian yang tuntunannya dicontohkan oleh NabiSAW kepada umat di masanya,
lalu diwariskan kepada Al Ulama Warshatul Anbya.
Mengapa hati ruhaninya ditataterlebih dahulu,
karena hati ruhani itulah yang mengendalikan seluruh anggotabadaniah termasuk akal-pikirnya.
Rujukannya Sabda Nabi SAW :
Innamaa bu'itsu liutamimma makaarimal akhlaaq -
"Sesungguhnya aku(Nabi SAW) diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak (perilaku zahir =jasmani dan perilaku batin = rohani)
(HR Ahmad).
Tehnologinya:
Qun ma’allahfainlamtaqun ma’allah faqun ma’a man ma’allah fain nahu yusiluka ilallah
" adakanlah beserta Allah (ruhaninya) jika tidak bisa beserta Allah adakanlahbeserta orang yang telah beserta Allah, maka orang itulah (ruhaninya)yang menghubungkan ruhanimu kepada Allah "
(HR. Abu Daud).
Metoda pelaksanaan tehnisnya di dalam Thariqatullah Thariqat Naqsyabandiyah,
dimasa kini (dijaman Ulama) yangmenuntun dan ngiguhke/mrenahke (bahasa jawa)adalahGuru Mursyid sebagai Al Ulama Keruhanian Islam.
Perilaku zahir/fisik didalam ibadahseumpama Ilmu Fiqih mengajarkanlafadz, niat, dan pelaksanaan tehnis dari zahirnya ibadah,
cakupan operasionalnya adalah yang horizontal (filosofisnya agar ada perbedaan antara ibadah kaumMuslimin dengan Non Muslimin),
sedangkan IlmuKerohanian Islam dimensinya adalah qalbu = hati rohani
yaitu mengajarkanteknis pelaksanaan kerohanian yang merupakan substansi - esensi ibadahitu sendiri yaitu cara menghubungkan diri Rohani, Qalbu – hati hayati, langsung ke hadirat Allah SWT
melalui sistem rohani yang sambungmenyambung hingga ke Arwahul Muqaddasah Nabi Muhammad SAW.
Metode pelaksanaantehnisnya di dalam Al-Qur’an disebut Thoriqoh = thariqat (QS. Surat Jin 16).
Ilmu Fiqih adalah penting dibidangibadah fisis jasmaniah,
sedangkan Ilmu Kerohanian Islam juga penting dalamhubungan rohani vertikal kehadirat Allah SWT.
yang merupakan esensi yangfundamental dalam misi ibadah itu sendiri karena yang hubungan antara hambadengan Allah Tuhannya adalah qalbunya (ruhaninya).
Dengan demikian merupakan obyek yang mesti diolah dan digarapoleh ahlinya - ahladz dzikri,
jadi kedua Ilmu (Fiqih dan Kerohanian Islam) itutidak dapat dipisahkan satu sama lainnya,
harusberjalan dan dijalankan bersama-sama laksana dua sisi mata uang dimana sisi yang satu merupakan pelengkapmutlak dengan sisi yang lainnya, demikian juga sebaliknya.
Sebagai contoh yaitutentang shalat,
pelaksanaanberdirinya shalat seseorang secara normatif wajib menggunakan 3 (tiga)rukun/unsur yang melekat pada dirinya yaitu :
1. Rukun qauli (perilaku lesan)
2. Rukun fi’li (perilaku anggota badan)
3. Rukun qalbi (perilaku hati)
Ketiga unsur tersebut mempunyai tugasyang berbeda-beda namun dilaksanakan bersama-sama karena satu paket pekerjaan.
Lesan bertugas membaca bacaan yang wajib dibaca dalam sholat misalnyatakbir,
membaca surat Alfatihah, membaca tasyahut, membaca dua kalimahsyahadat, shalawat Nabi dan membaca salam.
Kemudian anggota badan bertugas mengangkat tangan untuktakbiratul ikhram - ruku’- sujud, dst.
Sedangkan qalbibertugas meletakkan niat untuk melaksakan shalat dan berdzikirullah =ingat Allah = hubungan kepada Allah = hudurul qalbu ma’allah.
Seluruh pekerjaan qauli dan fi’li orang tersebut adalah benar,
namunyang hadir di hati dan pikirannya silih berganti aktivitas dunianya yang sudahberlalu maupun khayalan aktivitas dunia yang akan dikerjakan hingga sampaiselesainya shalat
dan tidak mendapatkan fii shalatihim khasi’un (di dalam shalatnya khusu’),
akibatnya hari kehari hatimereka senantiasa dalam rasa resahgelisah - gundah gulanah tidak ada sakinah mawaddah (bahagia dan sejahtera)
dalam dirinya karena mereka belum pernah diajarkanqalbinya (rohaninya) kontak dzikir hubungan kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW diutus didunia salah satu tugasnyauntuk menyempurnakan akhlak (tingkah laku dzahir dan tingkah laku bathin =Rohani/qalbu/hati)
agar kedua unsur tersebut beriman dan bertaqwa kepada Allahdan Rasulnya yang akibatnya mereka mendapatkan pribadi insan kamil.
Ruhani yang sudah beriman danbertaqwa kepada Allah dan Rasulnya kelak ruhaninya akan ditempatkan di SorgaAllah karena Rahmat Allah juga.
Itulah haqiqat Dinnullah (Agama Allah) di bumi yang dibawa awalnya oleh Nabi AdamAs. dan diakhiri oleh Nabi Muhammad SAW.
Para ahladz dzikir itu adalahinsan-insan pilihan Allah (yang dikehendaki Allah)
sehingga tidak sembarangorang dapat menduduki predikat ahladz dzikri,
karena kondisi pribadinya (Qalbunya = hatiruhaninya) telah disetting oleh Allah sendiri sebagai Waliya Mursyida - Pemimpinperamalan Dzikirullah sebagai Al Ulama Warshatul Anbya yang hati rohaninya segaris padaTali Allah
dan qalbu mereka senantiasa tahqiq akan Allah setiap saat (karena memang mereka itulahaparat Allah SWT, pilihan-Nya sebagai pewaris – penerus pekerjaan Nabi)
sehinggaAllah tidak menurunkan Nabi lagi karena ilaihilwasilata tetap dipancar teruskan kepada Al Ulama Warshatul Anbya tersebut serta meneruskan tanganNabi di dunia untuk umatnya dimasing-masing jamannya),
oleh karena itu mereka adalah orang-orang yang istimewa (Rohaninya),
sebab di dalam hati ruhaninya bermuatan Nur Muhammad
(Nurun‘ala nurin yahdillahu linurihi mayyasya’u =Nur Allah di atas Nur Muhammad, menunjuki kepada hambanya yang dikehendaki padaNur itu : QS An-Nur 35 )
sehingga Nur itulah yang menuntunrohani = hati kita dengan metode (Thariqatullah) menuju ke Rohani Utama
(Arwahul Muqaddasah Nabi Muhammad Rasulullah SAW)
bersama-samadengan rohani Junjungan Nabi kita menujukehadirat Allah SWT baik di dalamibadah khusus/mahdhoh,
maupun ibadah sunat lainnya (nawawil) sehingga seluruh ibadah kita ( yang shalatku,ibadahku, hidupku dan matiku ) senantiasa hadir di maqam Ikhsan.
Perlu diketahui,
bahwa jalan thariqatullah yang benar harus berdiri di atas Syari'atIslam (Ilmu Fiqih) yang benar
dan supra rasional yang benar harus berdiri di atas rasional dan metafisika yang benar juga harusberdiri diatas fisika
sebagaimana Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yaitu :
AlIslamu Ilmiyyun wa ‘amaliyyun =
"Islam itu ilmiah danamaliah".
Hadits tersebut di dukung dengan Firman Allah dalam QS. Al Jin ayat 16:
Waallawi astaqamuu 'alath-thaariqati laa asqainahum maa an ghadaaqaan -
"Sekiranya mereka tetap berjalan di jalan (Thariq) yang lurus, pasti Kami (Allah) turunkan hujan rahmat yangmelimpah".
Nabi Muhammad SAW sebagai tangan untukumatnya dibumi,
maksudnya rohani Nabi ikut berproses secara kerohaniannya, menyucikan ruhani(hati, jiwa) para pengikutnya di SatuJalur Utama - Tali Allah (QS. Ali-Imran 164),
mengajari mereka Al Kitab dan AlHikmah ,
sekaligus sebagai Imam Utama (Kerohanian)menuju ke hadirat Allah SWT.
Mereka(para mandataris Allah = Nabi dan Ulama) yang digaris Tali Allah mendapatkanNur, Cahaya-NYA, diterangkan di QS. An Nur , ayat 35 : Nuurun 'alaa nuurin yahdillaahu linuurihimayasyau -
"Nur diatas Nur ( Nur Allah diatas Nur Muhammad ) menunjukihamba-Nya yang dikehendaki dengan Nuritu".
Disamping itu ditegaskan di lainsurah yaitu QS. Al Kahfi, ayat 17 :
Mayyahdillahu wahuwal muhtad wamayyudlilfalaan tajidaalahu waliyya mursyida -
"Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka diadalam kebenaran, namun barang siapa yang disesatkan (tidak diberi petunjuk olehAllah) maka tidak ada seorangPemimpin(Waliya Mursyida = Pemimpinperamalan Dzikrullah) yang dapat menunjukinya."
Dan juga dikuatkan dalamfirman-Nya di QS Al A'raf, ayat 178 : Manyahdillahu wahuwal muhtadi wa man yudhlil faulaika humul khasiruun - Barang siapa yang diberi petunjuk olehAllah, dialah orang yang mendapat petunjuk, dan siapapun yang IA biarkan sesat, merekalah orang-orang yang menderita kerugian.
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran, ayat 31 :
Qul inkuntum yuhibbuunallaha faattabi'uuniiyuhbibkumullaahu wa yaghfiru lakum dunuubakum wallaahu ghafuurun rahiimun - Katakanlah (Ya Muhammad) :
"Jika kamu(benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikut Nabi Muhammad lahirbatin),
niscaya Ia (Allah) akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu danAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah Ta'ala menyatakan dalam haditsQudsi :
Lam yasa'ni ardhi walaa samaaiwawasi'ani qalbu 'abdil mu'minul layyinul waadi' -
"Tak dapat menjangkau akandzat-KU (Allah), bumi dan langit-Ku , yang dapat menjangkau-KU adalah hamba-KU mu'min, yang berhati lunakdan tenang.
(HR. Ahmad dari Wahab bin Munabbih)
Maksudnya adalah,
yang sampaikehadirat Allah adalah hamba Allah yangmukmin dan berhati lunak (hamba yang telah mendapat penerusan Nurun ala Nurin)dari Sang Khaliq Allah SWT .
Oleh karena itu, Tuhan sangat adilsekali menempatkan alat komunikasi antara mahluk (materi) dengan Tuhan Allah (a-materi)dengan simbol dan sebutan hati, qalbu - fuad - af'idah - rohani.
Kalaulah cukup ibadah melalui lisan dan anggota badan saja,
maka adapertanyaan yang bernada protes kepada Tuhan.
Umpamanya bagaimana manusia yangdiciptakan Tuhan sejak lahir dikondisikancacat secara phisik (invalid), buta,tuli, lumpuh, gagu, separo lumpuh dan lain-lain, bagaimana mau melaksanakanSyari'at Islam secara kaffah, komplit dan sempurna sementara kondisinya sajacacat, sudah susah didunia apa mereka mesti susah diakherat juga ?!,
tetapibila dilihat dengan kaca mata Ilmu Hakekat (Kerohanian Islam),
maka akanterjawab yaitu ibadah mereka dengan Qalbu = Hati - Rohani.
Harap diketahui bahwa manusia (insan) itu dinilai oleh Allahhanya dua macam,
pertama hatinya danyang kedua adalah amalnya.
Pertanyaannya adalah siapa yangmemiliki dan mewarisi Hati - Qalbu mu'min yang lunak dan tenang ?
Jawabannyaadalah Nabi Muhammad SAW,
beliau jelas beriman, bertaqwa, kaffah betulIslamnya.
Pertanyaan yang kedua adalahsiapa sih ... ! pemimpin kita (Ummat Islam itu) ?,
dengan jelas dan tegas bahwa pemimpin ummat Islam :
Pertama Allah SWT, Kedua Rasul-Nya (Utusan , Kekasih-Nya = Muhammad SAW)
dan yang Ketigaadalah Orang-orang yang beriman(Para Ulama = Sholihiin, Shiddiqiin, Syuhada, Waliya Mursyida),
kita sekarangini hidup dijaman Orang-orang yang beriman alias dijaman Ulama
(lihat QS. AlMaidah, ayat 55-56).
Pertanyaan selanjutnya adalah kriteria - klasifikasi yang bagaimanakahorang-orang yang beriman itu ?!
Untuk menjawab itu referensinya adalah bahwamereka (kaum Mukminin),
harus dan mutlak yang segaris dengan ajaran Al Qur'andan Sunnah - Hadits,
IstilahnyaAhlus Sunnah wal Jamaah, baik yang bersifat zahir - jasmani dan batin-rohaninyasegaris di Tali Allah.
Oleh sebab itu secara khusus mereka itu (kaumMukminin yang berhati lunak dan tenang) jelas-jelas mereka yang dikehendakioleh Tuhan Allah SWT ! (Mereka = Hamba-hamba pilihan-Nya, yang dihatinya diberiNur, Nur Muhammad).
Lantas dimana dan bagaimanakah letak Nuruun ‘ala Nuurin (Nur Muhammad) yangdiberikan-Nya kepada hamba-hamba yang dikehendaki itu?,
Nur itu letaknya diHati = Rohani = Qalbu, dan Nur itu sebagai Al Wasilata = Tali Allah.
(lihat QS.An Nur, ayat 35).
Referensinya bahwa kita beragama itu bukan terletak hanya dijasmaniah - bersyari'at saja (termasuk di otak) yang bersifat kasar(materi),
jasmani hanya sebagai alatsaja, yang berkapasitas sangat terbatas.
Sedangkan Rohani = hati, qalbu sajatanpa diberikan al wasilata - Tali Allah yang berupa Nuruun ‘ala Nuurin maka tidak akan sempurna,
hanya sebatas sebagai catatan amal saja.
Kesimpulannya,
kita wajib memfokuskanrohani kita ke rohani Sang Mursyid - Ahli Silsilah Thariqatullah yang telahbersatu - terfokus kepada Rohani utama Rasulullah SAW,
sedangkan kita tentunya diguide - handle - dituntun oleh mereka - para Mursyidana
(Ahladz dzikir =Ulama warshatul anbya dimana ruhani-ruhani mereka telahdisucikan oleh Allah SWT)
sebagai Aparat - Instruments-NYA, yang telahtertanam Al Wasilata = Nur Muhammad =Nuruun ‘ala Nuurin sebagai Tali Allah, menujuke hadirat Allah Yang Maha Hidup, Maha Qadim, Maha Halus dan Maha Segalanya.
Usaha penggabungan antara rohani kitadengan rohani para mursyidana serta Rohani Rasulullah SAW ( 3 in 1 ) yangdidalamnya telah terpasang saluran-NYA (Channel, Al-Wasilata),
(CATATAN : Penggabungan ruhani disini bukanlah lalukemasukan-kesurupan, sebagaimana ilmu kebatinan yang kita lihat dan kita dengaryang substansinya dipastikan berisi selain unsur Allah yaitu berisi unsurSyaitan, Jin dan sebangsanya yang bukan ajaran Islam serta diluar Tauhid Islamwalaupun menggunakan Ayat-ayat Al-Qur’an).
Betapa tinggi dan beruntungnya kondisimereka yang telah bergabung ruhaninya di garis Tali Allah dan mendapatkanNuruun ‘ala Nuriin – Nur Muhammad - Al Wasilata – channel sehingga shalatnya menjadikhusuk,
suatu pekerjaan yang amatsangat diperlukan sekali dan dilaksanakan setiap kita beribadahagar dapat bersama-sama bermakmum dan berimam denganRohani Rasulullah yang khalis mukhlisin,
sebagai tanda abdi kita yang setinggitingginya dan amat suci murni terhadap Al Malikul Mulki yang Wahdahu LaaSyarikalaah.
Kelihatannya, keterangan diatas itupanjang dan sangat sulit,
namun sesungguhnya mudah dan temponya sangat singkat, itu jugasewaktu melakukan sholat yang letaknya di hati/qalbu,
sebagai titik a materididalam diri seorang mu'min,
istilah dalam Ilmu hakekat disebut Latifaturrabbaniyah.
Perlu dicatat bahwa meski hanya sedetik ukuran demensi kita (terbatas),
dan bila masuk dalam demensi yang takterhingga (alam Illahiyah- faktor Rabbaniyah) maka hasilnya pasti tak terhingga pula.
Sebab satu-satunya mahluk di dunia ini ( lebih dari 15 abad yanglalu hingga kini dan sampai kiamat )
yang pernahberjumpa ke hadirat Tuhan Allah Ta'ala hanya ada satu manusia pilihan yaituNabi Muhammad SAW.
Sewaktu peristiwa agung Isra’ – Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Di bawah ini kami contohkan logikapraktis tentang hubungan manusia dengan Allah SWT.
Contohkongkret yang pertama :
Bila kita (hati-qalbu-ruh)diumpamakan bola lampu,
maka sebagai mediator - al wasilata untukmeng-hidup-kan harus pakai listrik(Tali Allah),
kita ikuti para orang mukmin yang hatinya sudah terpasang nuruun ala nuurin dan kitadisetting di iguhke, di prenahke (bahasajawa) oleh Mursyid = ahladz dzikir untuk berhubungan langsung denganlistrik dan akibatnya lampu kita menjadi hidup (nyala).
Dengan lain bahasa bahwa kita (ruhani - hati )di setting - di iguhkan di dalam dan bersatu dalam 3 in 1 yaitu Ruhani kita, RuhaniMursyidana, Ruhani Rasulullah SAW dantelah segaris dengan Tali Allah = Al Wasilata (Nuurun ala Nuurin = NurMuhammad) menuju kehadirat Allah SWT.
Contohkongkret yang kedua :
Penggabungan Rohani/qalbukita dengan rohani Rasul adalah syarat mutlak dalam thariqatullah - IlmuKerohanian Islam,
seperti diumpamakan :
Kita mesti paham bahwa mana yang kawat dan mana yang listrik,
karena kedua-duanya mempunyaibentuk yang sama.
Kawat adalah penghantar saja, tetapi ia bukan listrik dankedua-duanya sangat berhampir satu sama lain,
dan bentuknya sama tapi tidakbersyarikat !.
Bila dimanapun kita pegang kawat itu, si-listrik-nyalah yang akan MENYETRUM kita bukan si kawat yang nyetrummelainkan sang listrik,
karena kedua-duanya sangat berhampiran satu sama lain walaupun tidak bersyarikat,
dan bentuk keduanya persis sama sajapada waktu itu,
namun si kawat tidak menjadi listrik, dan listrik tidak akanpernah menjadi kawat !.
Banyak lagi contoh-contohyang tidak kami cantumkan di tulisan ini,
dan semoga kaum muslimin - muslimatdapat hikmah dari keterangan yang sangat berharga ini sehingga kaummuslimin menyegerakan untuk mendapatkan ilmunya yang di dalamdada para Mursyidana yang tahqiq(selalu) di garis Tali Allah syari`i
(Al Qur`an dan AlHadits disamping Ijma` Ulama dan Qiyas)
dan di garis Tali Allah haqiqi(silsilah rohaninya nyata benar sambung menyambung hingga sampai ke rohani NabiMuhammad Rasulullah SAW)
demi untuk kesempurnaan ibadah kita dalam meraih kehidupan duniawi dan kehidupanukhrowi yang di ridhoi Allah SWT.
Amin …
Ya Rabbil `alamin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Nb :
"Goresan Hati Ayahanda Guru Mursyid yg tertuang dalam untaian kata yang membentuk kalimat dilisan."
Kamis, 08 Mei 2014
Satu Tapi Tak Bisa Bersatu.
Bismillah....
manalah mungkin sesuatu yg berbeda sifat bisa melebur menjadi satu,
akan tetapi dua unsur tersebut masih bisa bersamaan dalam satu wadah,
tinggal unsur mana yg lebih menguasai diantara keduanya,
itulah yg terlihat dalam perwujudannya...
begitu juga hati/ruhani dengan sang akal/fikiran,
keduanya tidak akan pernah bisa melebur menjadi satu,
karena hati/ruhani yg bersifat kekal yg mewakili ruh dalam diri kita,dan
akal/fikiran yg bersifat fana yg mewakili jahir dalam diri kita.
akan tetapi mereka bisa bersama dalam satu wadah,
dan bisa dibedakan mana yg dominan didalam jasmani kita,
apakah ruhani atau akal/fikiran,
yaitu yg terjahir dari perilaku jasmani kita.
1.bila ruhani kita yg dominan,
akan tercermin dari perilaku kita yaitu lebih mencintai Allah sebagai induk dari segala ruhani dan makhluk ciptaanNya,
dengan cara menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2.bila akal/fikiran yg dominan/menguasai,
akan tercermin dari perilaku jasmani yg lebih mencintai dunia yg sama berifat fana dgn sang akal/fikiran tersebut,
sehingga perilaku jasmani akan lebih banyak bertentangan dengan apa yg diperintah dan dilarang oleh Allah SWT.
contoh secara ilmiyah:
air dan minyak yg berbeda unsur tp 1 zat yaitu zat cair bentuknya,
selamanya kedua jenis zat cair tersebut tidak akan dapat melebur menjadi satu,
akan tetapi bisa kita satukan dalam satu wadah misalkan gelas.
bila air lebih banyak dari minyak,
tentu yg kelihatan dominan adalah air digelas tersebut,
begitu juga sebaliknya...
tinggal kita pilih yg mana yg kita sukai dalam menempuh hidup dan kehidupan ini,
seperti dalam salah satu petikan syair :
Bila Allah tujuannya,
maka dunia akan melayaninya,
bila dunia tujuannya,
maka akan tersiksa sampai akhir masa...
manalah mungkin sesuatu yg berbeda sifat bisa melebur menjadi satu,
akan tetapi dua unsur tersebut masih bisa bersamaan dalam satu wadah,
tinggal unsur mana yg lebih menguasai diantara keduanya,
itulah yg terlihat dalam perwujudannya...
begitu juga hati/ruhani dengan sang akal/fikiran,
keduanya tidak akan pernah bisa melebur menjadi satu,
karena hati/ruhani yg bersifat kekal yg mewakili ruh dalam diri kita,dan
akal/fikiran yg bersifat fana yg mewakili jahir dalam diri kita.
akan tetapi mereka bisa bersama dalam satu wadah,
dan bisa dibedakan mana yg dominan didalam jasmani kita,
apakah ruhani atau akal/fikiran,
yaitu yg terjahir dari perilaku jasmani kita.
1.bila ruhani kita yg dominan,
akan tercermin dari perilaku kita yaitu lebih mencintai Allah sebagai induk dari segala ruhani dan makhluk ciptaanNya,
dengan cara menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
2.bila akal/fikiran yg dominan/menguasai,
akan tercermin dari perilaku jasmani yg lebih mencintai dunia yg sama berifat fana dgn sang akal/fikiran tersebut,
sehingga perilaku jasmani akan lebih banyak bertentangan dengan apa yg diperintah dan dilarang oleh Allah SWT.
contoh secara ilmiyah:
air dan minyak yg berbeda unsur tp 1 zat yaitu zat cair bentuknya,
selamanya kedua jenis zat cair tersebut tidak akan dapat melebur menjadi satu,
akan tetapi bisa kita satukan dalam satu wadah misalkan gelas.
bila air lebih banyak dari minyak,
tentu yg kelihatan dominan adalah air digelas tersebut,
begitu juga sebaliknya...
tinggal kita pilih yg mana yg kita sukai dalam menempuh hidup dan kehidupan ini,
seperti dalam salah satu petikan syair :
Bila Allah tujuannya,
maka dunia akan melayaninya,
bila dunia tujuannya,
maka akan tersiksa sampai akhir masa...
Langganan:
Postingan (Atom)