Senin, 31 Maret 2014

ULAMA WARISYATUL ANBYA

Bismillah...

bila hati/ruhani sudah tak bertaut dan beserta padaNya,
tentu saja sang hati itu akan diberangus oleh iblis laknatullah yg dia juga bermukim ditubuh kita,
bukanlah sekedar amal dan ibadah kita yg ditakuti iblis,
dan bisa menyelamatkan kita,
akan tetapi karena adanya Dia yg beserta ruhani kita didalamnya,
sehingga terjaga dari godaan iblis laknatullah yg selalu mengintai kelengahan kita disaat lupa...

dan begitulah liciknya sang iblis,
dibelokan sedikit keyakinan kita olehnya,
bahwa amal dan ibadah kitalah yg akan menyelamatkan,
sedikit tapi akan membawa petaka dari dunia ini sampai akhirat kelak tentunya...
na'udzubillah....

maka dari itu,
sungguh teramat penting kita mempunyai Ilmu tentang cara Beserta/hubungan kepada Allah,
agar senantiasa hati/ruhani kita tetap terjaga olehNya...!
hanya seorang Ulama warisyatul anbya yg bisa mengajarkan kita Ilmu tersebut,
yaitu Ilmu Keruhanian Islam yg populer disebut Ilmu Tasawuf.
dan tentu saja bukan sembarang Ulama yg bisa mengajarkan Ilmu Keruhanian Islam tersebut..!

janganlah terpesona oleh,
Jubahnya yang Panjang,
oleh sorbannya yg melingkar,
oleh fasihnya dia berbahasa arab,
oleh hafalnya al qur'an dan hadits,
oleh pandainya dia berceramah merangkai kata.
Bukan itu jaminan seseorang sebagai Ulama Warisyatulambya...!

akan tetapi seorang Ulama warisyatulambya pasti dia (Hati/ruhaninya) tak pernah terputus barang sedetikpun berada segaris dengan Tali Allah yg menjulur sampai kebumi dan dia berani mempertanggung jawabkan Ilmu yg dia ajarkan bukan hanya didunia ini saja akan tetapi bertanggung jawab dan bersaksi atas ilmu yg diajarkannya sampai kelak dihadapan Mahkamah Yang Maha Agung dihadapan Allah SWT...!

Dan yg dimaksud dengan "segaris tali Allah" itu,
menurut pemahaman yg sudah saya terima.
Hati/ruhani sang Ulama warisyatul anbya tersebut tidak terputus barang sedetikpun beserta/hubungan kepada Allah melalui jalanNya yaitu sambung menyambung melalui para Ruhani yg Khalis Mukhlisin sampai dengan Ruahniah Rasulullah SAW hingga Allah SWT.

dan Ilmu tersebut hanya akan kita dapatkan dalam Ilmu Keruhanian Islam yg diajarkan Ulama warisyatulambya...!
wajib hukumnya pertanggung jawaban suatu Ilmu tentang Agama Islam ini,
harus jelas pertanggung jawaban dan asal muasal Ilmu yg harus kita amalkan tersebut secara keruhanian dan ada bukti otentik tentang keabsahan Ilmu tersebut.
misalkan,
saya belajar dan berguru kepada Guru Mursyid saya,
akan tetapi saya harus tahu darimana asalnya Ilmu yg diajarkan oleh Guru Mursyid saya tersebut,begitu juga Gurunya Guru Mursyid saya jg harus jelas darimana belajarnya,
dan terus turun temurun keatas sampai ke Bagina Yang Agung Rasulullah SAW tentunya sebagai sumber dari Ilmu tersebut.
sehingga apa yg saya amalkan dalam ibadah ini kelak jelas ada yg mempertanggung jawabkan dan menyaksikan atas apa yg sudah saya amalkan,
bukan hanya didunia ini saja tapi sampai kelak diakhirat.

ingat mati itu hanyalah terpisahnya jasmani dan ruhani.
jadi yg namanya Ruhani kekal abadi sampai akhir nanti,
sehingga sang Ruhani tersebut kelak yg menjadi saksi atas ilmu yg kita amalkan... 


Wa yauma nab'atsu fii kul-li um-matin syahiidan 'alaihim min anfusihim wa ji'naa bika syahiidan 'alaa haa-ulaa.

Dan ingatlah suatu hari, ketika Kami (Alloh) bangkitkan tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dan untuk mereka sendiri, lalu Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka (sebagai umatnya). 
(QS. An-Nahl : 89).

masih teringat dlm hati saya pernah salah satu ahli Taswuf yg saya lupa namanya berkata :

- seseorang yg bisa baik hubungannya dengan sesama orang/manusia,
belum tentu dia hubungannya baik dengan Allah.
- seseorang yg baik hubungannya dengan Allah pasti dijamin baik hubungannya dengan orang/manusia juga.

orang yg terkenal dibumi belum tentu terkenal dilangit,
begitu juga sebaliknya,
orang yg terkenal dilangit belum tentu terkenal dibumi.

semoga kita menjadi bagia dari orang orang yg sudah diberi Petunjuk olehNya....

Selasa, 25 Maret 2014

PENTINGNYA PERAN ULAMA WARISYATUL ANBYA DALAM BERAGAMA

Bismillah...

Barang siapa yang berbicara tentang sesuatu berkenaan dengan Al Quran tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.
(Hadis Riwayat Tirmidzi Dan Ahmad)"

dan memang nyata adanya sabda Rasulullah diatas dijaman sekarang ini,
banyak yg berbicara dan berceramah tentang agama dan Al Qur'an tanpa ilmu yg haq,
dan hasilnya adalah sesat dan menyesatkan umat yg tidak mengerti,
padahal yg berbicara dan menyampaikannyanya juga tidak mengerti atas apa yg disampaikannya...
na'udzubillah...

dan sesungguhnya hanya seorang Ulama warisyatulambya yg benar benar dijamin beriman dan bertaqwa kepadaNya yg tahu Ilmu tentang agama Islam dan makna Al qur'an yg sebenar benarnya,
sesuai dengan Firman Allah SWT:

In-namaa yakhsalloha min ibaadihil 'ulamaa-u.
Hanya Ulama sajalah di antara hamba-Nya yang benar-benar takut kepada Alloh SWT. (QS. Al-Fathir : 28).

Al-Ulama'u Warishatul Anbiya. 
"Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi"
(HR. Muslim)

bal huwa aayaatun bayyinaatun fii shuduuri alladziina uutuu al'ilma wamaa yajhadu bi-aayaatinaa illaa alzhzhaalimuuna.
"Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim."
( Al-'Ankabuut : 49 )

dan itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

"Sesungguhnya ada sebagian ilmu yang diibaratkan permata yang terpendam. Tidak dapat mengetahuinya kecuali ulama Billah. Apabila mereka mengungkapkan ilmu tersebut, tidak seorangpun yang membantahnya, kecuali orang-orang yang tidak paham tentang Allah."
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi RA)

dari keterangan diatas,
semakin jelas dan meyakinkan betapa pentingnya peran seorang Ulama warisyatulambya dalam hal beragama (Islam),
karena hanya merekalah saat ini yg menjadi kaki tangan Rasulullah dimuka bumi untuk menjadi penuntun dan pembimbing umat Rasulullah sampai akhir zaman,
tanpa tuntunan dan bimbingan seorang Ulama warisyatulambya sudah pasti kita sebagai Umat Rasulullah diakhir zaman ini akan tersesat tanpa arah tujuan yg pasti...!

Kanat banu-isroila tasu suhumul 'anbiyau, kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun. Wainnahu laa Nabiyya ba'di wasa takuunu khulafa'u fataktsuru 
Dulu Bani  Israil diurusi dan dipelihara oleh Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada Nabi Sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlah banyak. 
(HR. Bukhari - Muslim)

CIRI CIRI ULAMA PEWARIS NABI (WARISYATUL ANBYA)

Alquran menyebutkan Ulama ada 2 x.
Pertama: Di dalam surah Fathir ayat 28 :
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanNya hanyalah ulama".
Ayat ini berbicara dalam konteks ajakan, untuk mempelajari, memperhatikan turunnya hujan dari langit beraneka ragamnya buah-buahan, gunung-gunung dan fenomena alam yang menjadi ayat-ayat Kauniah. Orang-orang yang memiliki pengetahuan di bidang itu adalah para ulama-ulama yang takut kepada Allah Swt.
Yang kedua : Di dalam surah as-Syu'ara ayat 197 :
"Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?".
Ayat ini berbicara dalam konteks turunnya Alquran, yang dibawa oleh Jibril, yang disampaikan kepada Nabi MUHAMMAD Saw, dan kebenarannya diakui oleh ulama Bani Israil.
Berdasarkan 2 ayat di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama ialah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas mencakup ayat-ayat Kauniah (fenomena alam) dan ayat Quraniah.
Bila kita telusuri, kata ulama berasal dari ilmu, dan kata ilmu dan yang sejalan dengan makna ilmu berulang-ulang di dalam Alquran lebih 800 kali,
ternyata ilmu yang terpuji di sisi Allah SWT. adalah ilmu yang dibarengi rasa Khasyyah (takut) kepada Allah SWT. dan tunduk kepada yang memberikan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejalan dengan ayat-ayat Alquran, Hadits-hadits Nabi SAW. banyak mereka orang yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayah dan rasa takut kepada Allah.
Ulama-ulama yang memiliki rasa Khasyyah (takut) kepada Allah SWT mereka itulah pewaris Nabi sekaligus sebagai benang merah antara cendikiawan dan ulama.
Di dalam kitab AUNUL MA'BUD syarah SUNAN ABI DAUD, Juz 6 : 473. dijelaskan:
"Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi.
Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham dan mereka hanya mewariskan ilmu,
maka siapa-siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bahagian yang sempurna".
Hadits ini shahih, dan Imam Turmuzi,
Ibnu Majah juga meriwayatkan Hadits tersebut.
maknanya diperkuat oleh Alquran surah Fathir ayat 32 :
"Kemudian Kami wariskan Alkitab kepada yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami".
Ciri-ciri  Ulama Pewaris Nabi
Bila kita telusuri di dalam Alquran akan kita jumpai beberapa tugas para Nabi,
di antaranya : 
1. Menyampaikan :
"Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
(surah al-Maidah ayat 67)".
2. Menjalankan isi kandungan ayat-ayat Allah :
"Dan Kami turunkan Alkitab kepadamu
(surah an-Nahl ayat 44)".
3. Memutuskan atau menyelesaikan persoalan yang diperselisihkan.
Dan Allah turunkan bersama mereka Alkitab dengan benar agar dapat memutuskan perkara yang diperselisihkan
(al-Baqarah ayat 213)"
4. Menjadi contoh dan ikutan bagi umatnya:
"Sesungguhnya engkau berakhlak yang agung
(al-Qalam ayat 4)".
5. Membimbing umat ke jalan yang benar :
"Sesungguhnya engkau pembimbing ke jalan yang lurus
(Azzukhruf ayat 52)"
sungguh teramat pentingnya kita mempunyai seorang pembimbing yg benar,
yaitu Ulama warisyatulambya,
oleh karena itu carilah mereka,
belajarlah pada mereka,
mengabdilah pada mereka,
berjuanglah bersama mereka,
niscaya keselamatan di dunia sampai akhirat nanti akan kita dapatkan...!

Sabtu, 22 Maret 2014

CARA MENGENAL DIRI AGAR KITA BISA MENGENAL ALLAH

Bismillah...

sering orang berbicara tentang Hati (Ruhani),
tapi mereka belum tentu mengenal Hati (ruhani) tersebut,
jangankan mengenal Hati (ruhani) yg lain,
Hati (ruhani) nya sendiri saja belum tentu dikenalinya,

bagaimana/seperti apa Hati (ruhani) itu...?
ada dimana sang Hati (ruhani) itu bersemayam...?
apa yang dikerjakan sang Hati (ruhani) itu...?
dan apa kewajiban sang Hati (ruhani) itu...?

konon mau mengenal Rasulnya yang hidupnya terpaut lebih dari 1500 tahun yg lalu,
apalagi mau mengenal Allah yang Laeshakamislihi, yg tiada satupun menyerupaiNya...???
sedangklan mengenal Hati (ruhani) diri sendiri saja kita tdk tahu,


maka benarlah ada keterangan yg berbunyi :

"Kenalilah dirimu,
maka engkau akan mengenal Tuhanmu."


apakah bisa kita mengenal diri kita untuk selanjutnya bisa mengenal Allah SWT Tuhan kita umat Islam...???

tentu saja bisa...!
asal kita mengetahui ilmunya,
dan mau memperbuat atas apa yg diperintah dalam ilmu tersebut.

bagai mana caranya...???

caranya teramat mudah,
carilah orang yang dia sudah mengenal dirinya sendiri dan mengenal Allah,
bertanyalah pada mereka,
belajarlah pada mereka,
beramalah atas bimbingan mereka,
niscaya akan kita dapatkan ilmu yg bisa menyelamatkan kita dari dunia ini sampai akhirat kelak...!

siapakah orang / manusia tersebut...???
Dialah Rasullah SAW beserta para Pewarisnya yg sudah mendapatkan Ilmu dari Rasulullah disetiap zamannya,
hingga dizaman sekarang yaitu zamannya Al Ulama warisyatulambya...!


carilah Ulama Warisyatulambya tersebut dengan sedaya upaya bila kita masih mengharapkan keselamatan didunia ini sampai akhirat kelak...!

mau bertemu dengan sang Ulama tersebut...?
saya siap membantu kapanpun saudaraku mau,
karena alhamdulillah saat ini saya sudah menemukan sang Ulama tersebut,
dan sudah lebih dari 13 tahun saya mengikuti dan selalu dalam bimbingan Beliau...
selamat berjuang...

Selasa, 18 Maret 2014

IMAN dari SUDUT PANDANG ILMU TASAWUF (ILMU KERUHANIAN)

Iman dari sudut pandang Ilmu Keruhanian adalah saat hati/ruhani sudah beserta/hubungan kepada Allah melalui Malaikat, Rasul, dan orang orang Mukmin Pewaris Rasulullah SAW.

sehingga Iman disini bukan sekedar Ucapan dilisan akan tetapi sudah diperbuatan Ruhani (beserta/hubungan kepada Allah) yg tercermin dari perbuatan zahir (ucapan dilisan).
Karena sang Ruhani sudah besrta /Hubungan dengan Zat Yang Maha Segalanya,naka terhimbas pula sifat sifat dari Allah tersebut kepada Ruhani/hati kita,
sehingga terlihat dari perbuatan/perilaku zahir kita (perbuatan yang baik baik tentunya)
contoh secara ilmiyah :
sebuah paku besi yg dihubungkan dengan sebuah magnet,
maka otomatis paku tersebut akan terhimbas sifat magnet tersebut yaitu bisa menarik paku yg lainnya.
akan tetapi sekuat apapun sifat magnet dalam paku tersebut,
paku tetaplah paku tidak berbah menjadi magnet...!
kenapa hanya Ruhani yang bisa beserta/hubungan kepada Allah...???
karena hanya sesuatu yg berasal dari Zat Allah itu sendiri yg bisa sampai kepadaNya.
dan unsur Ruhani itulah yg berasal dari Zat Allah langsung,
seperti dalam satu keterangan yg berbunyi :
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan "Kutiupkan kepadanya ruh-Ku"maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya”. 
(Q.S. 38:72)
dengan keterangan diatas sudah jelas hanya sang Ruhani yg bisa hubungan/beserta kepada Allah,oleh karena itu maka timbul sebuah Ilmu yg dinamakan Ilmu keruhanian yg populer dinamakan Ilmu Tasawuf dan metodologi atau cara praktek Ilmu Keruhanian tersebut disebut Thariqat.
contoh secara Ilmiyah:
bila kita ingin berhubung dengan Matahari,
bagaimana caranya?
karena tiada satu benda pun yg bisa sampai kematahari karena belumlah sampai dia kematahari pasti sudah hancur lebur.
jadi apa yg bisa sampai kepada Matahari...?
tentu saja harus yg berasal dari matahari itu sendiri yg bisa sampai kematahari tersebut,
apa yg sampai kebumi dari matahari tersebut?
itulah cahaya matahari dan cahaya matahari itu berasal dari matahari sendiri.
hubungkan kita dengan cahaya matahari tersebut,
detik itu juga kita sudah terhubung dengan matahari tanpa kurang satu apapun.
sangat Ilmiyah bukan...???
itulah ilmu dari Islam yang Haq...!
pantas saja Rasulullah menyuruh kita untuk bisa beserta/hubungan kepada Allah SWT seperti dalam salah satu Sabdanya:
"jadikanlah dirimu beserta Allah,
apabila kamu tidak bisa beserta Allah,
jadikanlah dirimu beserta orang yg dia sudah beserta Allah,
itulah caramu beserta dengan Allah."
( HR. Abu Daud )
siapakah orang yang sudah beserta Allah tersebut...?
tentu saja Baginda Yang Agung Kangjeng Nabi Muhammad SAW dan diturunkannya Ilmu tersebut kepada Para Sahabat Beliau dan turun temurun sampai kepada Al Ulama Warisyatulambya sebagai Pewaris Rasulullah (pewaris Ilmu Rasulullah tentunya).
dan itu jg ditegaskan oleh Rasulullah :
Al-Ulama'u Warishatul Ambiya.
Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi
(HR. Muslim)
maka dari itu,
carilah sang Ulama Warisyatulambya tersebut dengan sedaya upaya,
agar kita bisa mendapatkan Ilmu yg bisa menyelamatkan kita dari dunia ini sampai akhirat kelak...!

Senin, 17 Maret 2014

Shalat yang bisa Mencegah dari Perbuatan Keji dan Munkar

Bismillah...

Dan tegakkanlah olehmu sholat ! 
Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, 
dan sesungguhnya dzikir kepada Allah itu lebih besar (keutamaan dan pengaruhnya bagi setiap pribadi insan), 
dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakannya. 
(Q.S. 29 Al ‘Ankabut : 45).


sering kita membaca/mendengar ayat tersebut diatas,
dari para ustadz,kyai,buya atau orang2 yg suka berceramah sesuai sebutan dimasing2 daerahnya.
akan tetapi pada kenyataannya masih banyak pelaku shalat tapi dia juga berbuat keji dan munkar,
bahkan (mohon maaf sebelumnya) banyak diantara mereka yg suka berceramah bahkan berprofesi sebagai guru agama ,
dan tentu saja sangat rajin shalatnya (secara zahir) akan tetapi tetap berbuat keji dan mungkar...?
(dan tentu saja tdk semuanya bgt)
dan sudah banyak bukti dan berita yg mengulasnya...

sehingga timbul pertanyaan,
mengapa bisa begitu...???
kemanakah shalatnya tersebut...?
sehingga tidak bisa mencegah dia dari perbuatan keji dan munkar walau dia rajin shalatnya...!

jawabannya gampang sekali...!

karena mereka hanya melaksanakan amal zahirnya saja (syaria't) yg dikerjakan oleh jasmaninya,
sedangkan inti dari ibadah shalat tersebut (yg dikerjakan ruhani/hakikat) tidak diperbuat,
yaitu hubungan/ingat/beserta Allah yg ada dlm shalat tersebut...!
sehingga hati/ruhani orang tersebut tidak terhimbas oleh sifat Maha Suci dan Maha Baiknya Allah SWT dlm dirinya.
hanya hati yg beserta/hubungan/ingat/dzikir kepada Allah lah yg akan terhimbas oleh keMaha Sucian Allah,bukan zahir yg bersifat fana/terbatas...!

seperti dalam satu keterangan :
“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah
itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah jantung ( hati / ruhani )”
(HR. Bukhari)


karena awal dari gerak jasmani adalah perintah sang hati/ruhani (bukan jantung yg segumpal darah),
jadi hanya hati yg sudah beserta Allah yg sudah terhimbas kesucian dan kebaikan dari Zat Yang Maha Suci tersebut.

Jadi bukan amalan shalat zahir saja yg bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar tersebut,akan tetapi amalan ruhani/hati dalam shalat tersebut yg bisa mencegahnya.
oleh karena itu,
carilah ilmu tentang beserta dengan Allah tersebut...!
agar amal kita (bukan hanya shalat) bisa membuat perilaku amal dalam kehidupan kita selalu tercermin dalam kebaikan.


siapakah orang yang dia sudah Takik hubungan/beserta Allah tersebut...?
tentu saja Baginda yang Agung Nabi Muhammad SAW beserta para Pewarisnya disetiap zamannya yaitu Al Ulama warisyatulambya...!

berbahagia dan teramat bersyukur bagi orang2 yg sudah mendapatkan seorang Guru (Ulama warisyatulambya)  yg mengajarkan Ilmu tersebut,
tinggal bagaimana kita menjaga dalam keistiqomahannya.
dan bagi yg belum mendapatkan ilmu tersebut,
segeralah berjuang untuk mendapatkannya,
agar kita dapat selamat dari dunia ini sampai akhirat kelak tentunya...!

selamat berjuang...!

Minggu, 16 Maret 2014

CINTA KARENA ALLAH

Bismillah...
bila cinta hanya menimbulkan rasa resah dan gelisah,
terkadang amarah yg menyertainya,
itu tandanya cintamu beserta dengan syetan,
karena hanya syetan yg akan membawamu kepada rasa tersiksa,
dan ingatlah,
bila kita mencintai sesuatu sudah melebihi cintanya kepada Allah SWT,
maka itulah Tuhanmu...!
na'udzubillah....!

dan ingatlah bahwa Allah itu Maha Cemburu,
Dia tak mau diduakan dengan siapapun dan apapun,
dan tentu saja azab yg pedih akan kitra rasakan bila kita memperbuatnya.

Rasulullah saw bersabda;
“Sesungguhnya Allahpun cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan”. 

(Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw bersabda;
“Tidak ada seorangpun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji”
(Bukhari Muslim)


carilah cara agar cinta kita selalu beserta Allah,
agar Allah tidak cemburu kepada kita tentunya...
bagaimana caranya...???
karena cinta itu adalah rasa maka dia adanya didalam hati/ruhani,
dengan kata lain cinta itu adalah perbuatan/amal hati/ruhani.
jadi,
jadikanlah hati/ruhanimu beserta Allah agar setiap perbuatan hati/ruhani kita selalu beserta Allah,
maka Allah akan meridhoi apa yg kita lakukan tentunya,
termasuk cinta kita.

dan itu sudah ditegaskan Rasulullah dalam salah satu keterangan:


"jadikanlah dirimu beserta Allah,
apabila kamu tidak bisa beserta Allah,
jadikanlah dirimu beserta orang yg dia sudah beserta Allah,
itulah caramu beserta dengan Allah."
( HR. Abu Daud )

siapakah yang sudah beserta Allah tersebut..???
tentu saja Baginda yang Agung Nabi Muhammad SAW. yang sudah takik bsertaNya,
dan Ilmu /tata cara besrta Allah tersebut diajarkan Beliau kepa Para Pewarisnya,
dari mulai Para Sahabat Dijamannya turun temurun,
hingga para Ulama warisyatulambya disetiap jamannya sampai akhir jaman.

Al-Ulama'u Warishatul Ambiya. Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi 
(HR. Muslim)

oleh karena itu,
karena saat ini adalah jaman Ulama warisyatulambya,
maka carilah mereka,
belajarlah pada mereka,
berjuanglah dengan mereka,
mengabdilah pada mereka,
niscaya kemenangan akan kita dapatkan dari dunia ini sampai akhirat kelak...

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal soleh, maka mereka akan dimasukkan oleh Tuhan mereka ke dalam rahmatNya; yang demikian itu ialah kemenangan yang besar.

Al Jatsiyah : 30