Selasa, 19 Agustus 2014

KEBENARAN tentang ILMU TASAWUF ISLAM

seorang Imam Mazhab yg begitu tinggi Ilmu syari'atnya saja masih mengakui dan menjalankan amalan para Sufi yaitu Ilmu Tasawuf Islam (Ilmu Keruhanian Islam),
Imam Shafi’i: 
“Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu :
1. mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang
dengan kasih dan hati lembut
3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasawwuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol.1, p. 341.]
dan tentu saja Ilmu Keruhanian Islam yg masih murni terjaga dari zaman Rasulullah SAW hingga saat ini yg dibawa oleh para Pewarisnya yaitu Al Ulama warisyatul anbya,
bukan sekedar asal Ilmu Tasawuf,
bukan sekedar ajaran Thariqat,
Ilmu yg harus jelas silsilah keturunan atau asal muasal sang pembawa Ilmu tersebut dan tak terputus sampai akhir jaman.
dan bisa dibuktikan dengan otentik keabsahan Ilmu tersebut,
baik sebelum mengamalkan maupun setelah kita mengamalkan Ilmu tersebut,
serta berbekas dalam hati kita,
sehingga bisa merubah cara pandang,
cara hidup,
cara berfikir,
dan cara yg lainnya kearah yang lebih baik dari sebelumnya.
bila hal tersebut tidak bs dibuktikan,
tentu saja harus diragukan kemurnian Ilmu tersebut...!
Ilmu Tasawuf Islam / Ilmu Keruhanian Islam,
adalah sebuah Ilmu yg sebenarnya teramat sangat diperlukan dalam hal kita beragama.
dan itu dipertegas juga oleh salah satu Imam Mazhab yg lainnya yang tak kalah hebatnya Beliau dalam hal ilmu syari'at,
sehingga Beliau dijadikan salah satu rujukan Umat Islam disaat ini dalam menjalankan syari'at Agama Islam :
Imam Malik :
Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fikih,
maka dia telah zindik,
dan barangsiapa mempelajari fikih tanpa tasawuf dia tersesat,
dan siapa yang mempelajari tasawuf dan fikih dia meraih kebenaran.”
(dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195)
alangkah mengherankannya bila masih ada yg meragukan bahkan mengatakan tidak ada tuntunannya tentang amalan para Sufi atau Ilmu Keruhanian Islam ini.
dan secara tidak langsung mereka meragukan atas keimanan dan keilmuan para Imam Mazhab itu tentunya...!

astagfirullah...

MENGIKUT

Bismillah...

tidak pernahkah kita berfikir,
bahwa dalam menjalankan Agama Islam itu sebenarnya kita hanya disuruh mengikut...?
yaitu,
mengikut Perintah Allah SWT yg disampaikan melalui RasulNya,
dengan cara mengikut perbuatan serta ucapan Rasulullah SAW...
bagaimana kita bisa mengaplikasikan kalimat mengikut tersebut...?
sedangkan kita terpaut lebih dari 1400 thn dari zaman Rasulullah masih berada secara zahir dan batin dialam dunia ini.
disinilah sebenarnya Allah memberi akal dan fikiran untuk mencari caranya agar kita bisa mengaplikasikan kata mengikut tersebut...
al islami ilmiyun, wa'amaliyun...
(HR. Bukhari)
tidak semata mata Rasulullah bersabda :
Kanat banu-isroila tasu suhumul 'anbiyau, 
kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun. 
Wainnahu laa Nabiyya ba'di wasa takuunu khulafa'u fataktsuru
"Dulu Bani Israil diurusi dan dipelihara oleh Nabi. 
Setiap kali seorang Nabi meninggal, 
Nabi yang lain menggantikannya. 
Sesungguhnya tidak ada Nabi Sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlah banyak."
(HR. Bukhari - Muslim)
Al-Ulama'u Warishatul Ambiya. Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi
(HR. Muslim)
karena disabda Beliau itulah jalan untuk mengaplikasikan (mempraktekan) kata mengkut tersebut,
kenapa demikian...???
mungkin jasmani Beliau sudah tidak ada dimuka bumi ini (berlindung/meninggal dunia/mati),
akan tetapi sesungguhnya Ruhani Beliau tak pernah mati,
Ruhani Beliau yg bermuatan Nurmuhammad selalu berada didunia ini beserta para Pewarisnya hingga akhir zaman...!
sesuai dengan Sabdanya:
“Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah,
jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah
maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah,
maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah”
(H.R. Abu Daud).
bukankah Rasulullah adalah orang yg sudah bisa besertaNya...?
maka benarlah sabda Rasulullah diatas adanya...
siapakah para Pewarisnya dizaman sekarang ini...?
merekalah Al Ulama warsyatul anbya yg berada disetiap zamannya.
”Muliakanlah ulama, maka sesungguhnya mereka itu pewaris Nabi-nabi, 
barangsiapa yang memuliakan ulama-ulama,
maka sesungguhnya ia telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”.
(Riwayat Khatib dari Jabir dari kitab Mukhtarul Ahadits, hal.134)
dan sesungguhnya hanya Ulamalah disaat sekarang ini yg paling takut/taqwa kepadaNya,bukan yg lainnya...!
sesuai dengan FirmanNya:
In-namaa yakhsalloha min ibaadihil 'ulamaa-u.
"Hanya Ulama sajalah di antara hamba-Nya yang benar-benar takut kepada Alloh SWT."
(QS. Al-Fathir : 28).
carilah mereka,
mengikutlah pada mereka,
karena hanya merekalah penuntun, pembimbing dan penunjuk jalan untuk kembali kepadaNya hingga kita tak akan pernah tersesat lagi karenanya..!
karena merekalah dizaman sekarang ini yg bisa memberi pertolongan,
baik itu didunia ini bahkan sampai akhirat kelak.
dan hal tersebut ditegaskan Rasulullah dalam Sabdanya:
Yasfa'u yaumal qiyaamatil ambyia'u tsummal Ulamaa'u tsummasy - syuhadaa'u.
"Yang memberi Syafa'at (pertolongan) di hari qiamat adalah para Nabi, Ulama dan Syuhada
(HR. Ibnu Majah)
semoga kita termasuk orang yg diberi petunjukNya...

SOMBONG

Bismillah...

dari AbuHurairah Ra.,
bahwasanya Rasullullah SAW bersabda:
“Jika ada seseorang berkata,
“orang banyak
(sekarang ini) sudah rusak"
maka orang yang berkata itu sendiri2 yang paling rusak di antara
mereka.”
(HR. Muslim)2
sebuah peringatan dari Rasulullah SAW terhadap umatnya (Islam),
agar jangan mudah menyalahkan/menuduh orang lain bersalah,
artinya,
introfeksi diri lebih diutamakan dalam setiap pergaulan,
mencari dan menilik kesalahan diri sendiri harus lebih dikedepankan,
dibanding dengan menilik kesalahan orang lain...
karena bila kita sudah gampang menuduh salah orang lain,
maka kebenaran yg sejati tidak akan pernah akan kita dapatkan,
karena akal serta hatinya sudah tertutup oleh rasa benar sendiri,
yang menghasilkan rasa tinggi hati.
dan tinggi hati itulah yg menyebabkan
manusia berani memakai selendang Allah yaitu SOMBONG..!
Dari Ibnu Abbas RA ia berkata: 
Rasulullah SAW bersabda,
“Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman :
Sombong itu adalah selendang-Ku dan
kebesaran itu adalah pakaian-Ku, maka barang
siapa mencabut salah satunya dari-Ku,
Aku akan melemparkan org itu ke neraka”.
[HR. Ibnu Majah,dlm Targhib wat Tarhib juz 3,hal.563]
maka wajarlah Allah begitu marah kepada makhlukNya bila ada rasa sombong tersebut
walau hanya sebiji sawi saja...!

Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.
(HR.Muslim)
begitu Bijaksananya Rasulullah dalam
menyampaikan sebuah petunjuk kepada
umatnya,
agar umatnya selalu berada dalam keadaan
rendah hati bukan tinggi hati...

Selasa, 08 Juli 2014

SULIT BUKAN BERARTI TIDAK BISA (untuk menemukan seorang Waliullah)

Imam Al-Ghazali ketika ditanya tentang Seorang Pembimbing Rohani, Guru Mursyid yang tidak lain adalah seorang Wali Allah,
Beliau berkata,
“Menemukan Guru Mursyid itu Lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita”.

Bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya menemukan sebatang jarum ditengah padang pasir di gelap gulita, dalam kondisi terang pun akan sulit menemukannya.
Ungkapan Al-Ghazali yang digelar sebagai “Hujjatul Islam” tidaklah berlebihan,
coba kita simak beberapa dalil berikut tentang Wali Allah :

Dalam hadits Qudsi,
“Allah berfirman yang artinya:
“Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab:
“Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Kita tidak mengetahui dengan pasti siapa Wali Allah atau siapa orang yang mempunyai derajat tinggi menjadi seorang yang dikasih Allah kecuali Allah berkenan member petunjuk-Nya. Untuk memudahkan umat, Rasulullah atas petunjuk langsung dari memberikan beberapa petunjuk ciri-ciri seorang Wali Allah :

Kualitas seorang Wali Allah bukan sembarangan,
mereka izin Allah karena kedekatan kepada Allah apabila kita memandang Wajah Wali Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah, pandangan kita kepada mereka akan menyambungkan rohani (Rabithah) kita dengan Allah.
Inilah dasar dalil yang digunakan oleh pengamal tarekat untuk selalu berwasilah kepada Guru Mursyid sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.
 .
Imam Al-Bazzaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, seseorang bertanya:
ya Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, siapa para wali Allah itu? 
Beliau menjawab, “Orang-orang yang jika mereka dilihat, mengingatkan kepada Allah,” 
(Tafsir Ibnu Katsir III/83).

Dari Said ra, ia berkata: 
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: 
“Siapa wali-wali Allah?” 
Maka beliau bersabda: 
“Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”
(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6)

Secara Dzahir, dalam pandangan awam, seorang Wali Allah bisa dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya meskipun orang yang memiliki sifat tersebut belum tentu langsung menjadi seorang Wali Allah :

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: 
pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, 
wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.” 
(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’)“

begitu sulitnya untuk mengenal seorang Walullah,
akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa menemukannya bila kita bersungguh sungguh untuk mencarinya,
tentu dengan usaha yg sungguh sungguh serta tak lepas dari berdo'a kepadaNya agar kita diberi petunjuk untuk menemukannya.
sungguh benar Firman Allah berikut ini:

"Manyahdillahu wahuwal muhtadi wa man yudhlil faulaika humul khasiruun"  - Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, 
dialah orang yang mendapat petunjuk, 
dan siapapun yang IA biarkan sesat, 
merekalah orang-orang yang menderita kerugian.
(QS Al A'raf, ayat 178)

oleh karena itu,
bagi para sahabat yg sudah menemukan dan dipertemukan dengan Waliullah tersebut,
jagalah dengan sedaya upaya bahkan bila perlu nyawa taruhannya untuk tidak kembali lepas dari pegangan kita,
sehingga kita tidak termasuk orang orang yg merugi...

Selasa, 24 Juni 2014

Tubuh (jasmani) Manusia Tercipta sebagai Jalan Masuknya Dosa dan Ruhani Manusia tercipta sebagai jalan Pembersihnya


Bismillah...

mari kita renungkan bersama kenapa jasmani disebutkan sebagai jalan masuknya dosa,

- mata jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita pandang,
- telinga  jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita dengar,
- kaki  jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita kita jalani/lewati,
- tangan  jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita pegang/kerjakan,
- kulit  jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita sentuh/rasakan,
- hidung  jalan masuknya dosa dari segala yg tidak pantas kita cium,
dan masih banyak lagi sisi jasmani yg bisa menjadi jalan masuknya dosa tersebut...
dan semua dosa tersebut bersemayam dalam hati/ruhani kita dari jalannya jasmani tersebut...
sehingga sudah tidak terhitung / tak terhingga lagi dosa yg telah kita lakukan dari semenjak terbukanya mata sampai kita kembali memejamkan mata,
apakah cukup hanya dengan shalat yg 5 waktu dalam 1 hari,
puasa yg 1 bulan dlm 1 tahun,
zakat yg kita lakukan semampunya,
berangkat haji 1 x seumur hidup,
apakah cukup semua amal yg kita lakukan untuk menghapus dosa yg tak terhingga tersebut dalam ruhani dgn amal yg sangat terbatas dari jasmani kita...?
secara logika tidak mungkin cukup jawabannya...!
manalah bisa menutup amal jasmani yg sangat terbatas (fana) menutup dosa yg tak terhingga tersebut...???

dan kenapa sang Ruhani sebagai pembersih dosa tersebut :
karena hanya Ruhanilah yg bisa beserta/hubungan/dzikir kepada Allah yang Maha Suci secara berkekalan,
sehingga terhimbaslah Kesucian Allah Yang Maha Suci tersebut kedalam diri kita melalui sang Ruhani kita tersebut,
sehingga terkikis habis semua dosa yg tak terhingga tersebut oleh Kemaha Sucian Allah Yang Tak Terhingga pula tersebut... :)
bila kita berhitung secara logika/matematika,
bilangan tak terhingga dikurangi bilangan tak terhingga tntu saja hasilnya Nol...!

itulah Ilmiyahnya Islam,
sehingga benarlah Sabda Rassulullah ini :
"Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" -
"Islam adalah ilmiah dan amaliah." 
(HR. Bukhari)

oleh karena itu,
carilah cara agar Ruhani kita bisa dzikir/hubungan/beserta/ingat kepada Allah secara berkekalan,sehingga kita bs mengikis semua karat dosa kita yg tak terhingga tersebut.
agar kita selalu dalam syafa'atNya dari dunia ini sampai akhirat kelak.
bagi yg sudah mendapatkan Ilmu tersebut,
pertahankan dengan segenap kemampuan,
bahkan bila perlu nyawa pun sebagai taruhannya dalam mempertahankan Ilmu tersebut...!
bagi yg belum mendapatkan Ilmu tersebut,
berusahalah dengan sungguh sungguh dan segala daya dan upaya untuk mendapatkannya,
agar kita selamat dari dunia ini sampai akhirat kelak tentunya...!

Sekedar Berbagi.

Rabu, 18 Juni 2014

Apa Bedanya orang yg SHOLAT,dengan orang yg INGAT ALLAH....??

Bismillah...

sekedar mengulang jawaban dari salah satu pertanyaan sahabat,
semoga bermanfa'at untuk kita semua dan ada hikmah dibalik jawaban tersebut.
========================================================

Pertanyaan:
* Apa bedanya orang yg SHOLAT,dengan orang yg INGAT ALLAH....??*

jawaban :
agak menarik walau sebenarnya bkn untuk dibahas persoalan diatas tp untuk diperbuat... 
perbedaan shalat dgn Ingat Allah menurut pemahaman yg sudah saya terima,
tergantung dr sudut pandangnya.
dan sebenarnya jawabannya adalah sama,
karena ada keterangan yg berbunyi:

Allah berfirman
“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk MENGINGAT-KU’.
(QS. At Thoha 20: 14)

tapi bila kita kaji lbh dalam,
ada sedikit perbedaan yg teramat mendasar dihasil akhirnya.
bila sudah hubungannya dgn ingat,
tentu bkn perbuatan Jahir saja yg dilakukan dlm shalat tersebut,
akan tetapi dgn disertai dgn perbuatan batin/ruhani.
sehingga terciptalah yg dinamakan KHUSYU dalam Shalatnya (khusyu jahir dan batin).

Khusyu secara Jahir:
sang jahir/badan melaksanakan semua rukun shalatnya dgn tertib dalam shalatnya,

Khusyu secara batin/ruhani:
tiada yg diingat selain Allah (selalu beserta Allah),

nah unsur yg kedua itulah yg menentukan diterima atau tidaknya shalat kita itu oleh Allah SWT kelak dikala dihisab,
dan itu sudah diperingatkan Allah SWT dlm salah satu FirmanNya :

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya..”
[QS.Al-Ma’un(107): 3-4]

lalai dalam shalatnya mengingat Allah disini artinya,
sang hati/ruhani mengingat yg lain selain Allah,
contoh:
terkadang bahkan kebanyakan orang,
badannya/jahirnya benar dan tertib melaksanakan semua rukun salatnya,
akan tetapi dalam shalatnya hati dan fikiran dia teringat kerjaan, tugas, anak, istri dll selain Allah,
itulah yg disebut "Lalai dalam shalatnya"

oleh karena itu alangkah pentingnya Ilmu tentang hal tersebut,
dan Ilmu (tata cara) tersebut tidak diajarkan dalam Ilmu Syari'at (FIKIH),
akan tetapi hanya dalam Ilmu Keruhanian Islam (Tasawuf Islam) diajarkan metodologi (tata cara) tentang mencapai keKhusyuan Ruhani kita dalam shalat tersebut.
oleh karena itu,
agar tidak sia sia Shalat kita,
maksudnya sia sia disini,
agar amal kita nmengandung unsur ibadah dan tidak nol hasilnya dihadapan Allah SWT,
tentu saja kita harus mendapatkan Ilmu tersebut,
agar kita mendapatkan keselamatan dan Syafa'atNya dikala dihisab Kelak...

Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan” (HR Al-Bukhari)

Bismillah...

terbesit dalam hati disaat membaca hadits ini,
walau bukan Syurga tujuan Utama kita beribadah kepada Allah SWT,
tapi hanya Ridha dan Rahmat serta syafa'atNya yg harus kita harapkan.
akan tetapi karena manusia masih banyak yg tergiur dgn hal tersebut dalam melakukan ibadah,
maka saya akan mencoba mengingatkan dan meluruskan Hal tersbut disini...

“Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan!” 
maka shahabat bertanya,
siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah? 
Nabi menjawab, 
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”
(HR Al-Bukhari)

sudah ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas,
“Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan”

artinya kita harus mengikut apa yg diperintahkan Allah melalui RasulNya,
serta memperbuat apa yg dicontohkan Rasulullah,
nah itu hanya bs diperbuat disaat jamannya Rasulullah oleh Umat Beliau dijaman itu yg hidup bersama sama dgn Beliau,sehingga bisa bersentuhan, melihat dan mendengar langsung apa apa yg diucapkan dan diperbuat Rasulullah dijaman itu.
dan disaat sekarang ini,
kita tidaklah hidup dijaman Beliau sehingga kita tdk bs langsung melihat dan mendengar apa yg diucap dan diperbuat Rasulullah SAW,
akan tetapi bkn berarti kita tidak bisa mendengar dan mencontoh Rasulullah dijaman sekarang ini,
karena maasih ada Penerus dan Pewaris Rasulullah SAW hingga akhir jaman kelak,
yaitu Al Ulama Warisyatul Anbya,
dan itu ditegaskan Rasulullah dalam beberapa Sabdanya:

Al-Ulama'u Warishatul Ambiya. 
"Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris Nabi"
(HR. Muslim)

Kanat banu-isroila tasu suhumul 'anbiyau, kullama halaka Nabiyyun kholafahu Nabiyyun. Wainnahu laa Nabiyya ba'di wasa takuunu khulafa'u fataktsuru 
"Dulu Bani Israil diurusi dan dipelihara oleh Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada Nabi Sesudahku dan ada para Khalifah yang berjumlah banyak".
(HR. Bukhari - Muslim)


merekalah dijaman sekarang ini yg harus kita cari,
merekalah dijaman sekarang ini sebagai pembimbing dan penuntun kita dalam beragama,
merekalah para Khalifah Rasulullah disetiap jaman smp akhir jaman sebagai penerus Ilmu Rasulullah sampai akhir jaman.
bukan Ulama sekedar Ulama yg kebanyakan mengakui dan diakui seama ini,
bukan sekedar jubahnya yg panjang,
bukan sekedar sorbannya yg melingkar,
bukan sekedar hafalnya dalil al qur'an,
bukan sekedar fasihnya berbahsa arab,
untuk patokan dia disebut sebagai Ulama warisyatul Anbya,

akan tetapi,
sudah lengkap Ilmunya bak itu ilmu syri'at (fikih) maupun Ilmu hakikatnya (ilmu keruhanian islam),
dan yg terpenting,
jelas asal muasal Ilmunya tersebut darimana,
jelas silsilah Keilmuannya tersebut dari Guru Ke Guru hingga Rasulullah SAW,
dan seorang Uama Warisyatul Anbaya berani ikut mempertanggung jawabkan semua Ilmu yg mereka ajarkan pada murid/jamaahnya sampai kelak dihadapan Allah SWT sebagai #Saksi atas Ilmu yg mereka ajarkan selama didunia ini...!


dan hal tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam FirmanNya:
Wa yauma nab'atsu fii kul-li um-matin syahiidan 'alaihim min anfusihim wa ji'naa bika syahiidan 'alaa haa-ulaa.
Dan ingatlah suatu hari, ketika Kami (Alloh) bangkitkan tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dan untuk mereka sendiri, lalu Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka (sebagai umatnya). 
(QS. An-Nahl : 89).

Wal-ladziina 'amanuu billahi warosulihi ulaika humush-shiddiquun wash-syuhadaa'u 'indarob-bihim.

Dan orang-orang yang benar beriman kepada Alloh dan Rosul-NYA, mereka itu orang-orang Siddiqin, dan orang-orang   yang   menjadi  saksi di sisi Tuhannya 
(QS. Al-Hadid : 19).

(tentu saja bagi murid yg patuh dan taat atas segala apa yg diajarkan sang Ulama tersebut )
semoga menjadi bahan renungan kita semua...

wassallamu'alaikum....